Rabu, 29 Agustus 2012 1 komentar

Mimpi

Bukan sekedar bunga tidur yang menghiasi pejaman mataku
Bukan sekedar lintasan angan yang melewati pikiranku
Tetapi adalah harapan yang akan aku wujudkan menjadi nyata
Dengan ikhtiar dan tawakkal akan aku buktikan

Ya... 
Di sinilah aku selalu mendapatkan semangat
Semangat yang menggairahkan diriku untukterus berjuang
Semangat yang mendorong diriku untuk maju

Semangat dari orang tuaku
Semangat dari saudaraku
Semangat dari orang-orang yang menyayangiku

Dan..
Semangat itulah yang kini menjadikan ku YAKIN 
Bahwa aku bisa..aku bisa mewujudkan semua MIMPI ku

Bismillah ....


1 komentar

Aku Ini


Ingin seperti engkau mamah . . . .
Yang selalu bisa mengurus rumah tangga dengan baik
Ingin seperti engkau mamah . . . .
Yang selalu dirindukan oleh suami dan anak-anaknya ketika pulang ke rumah

Ingin seperti engkau abah . . . .
Yang bisa bertanggung jawab dan sayang terhadap keluarga

Dan . . .
Ingin seperti engkau abah . . . .
Pahlawan Pendidikan . . .
Yang selalu dirindukan oleh "anak-anak"nya kapan pun dan dimana pun
Yang selalu didoakan oleh semua "anak-anak" nya dalam setiap sholat mereka
Yang selalu dihargai oleh teman-teman sejawatnya
Yang selalu ramah dan sabar terhadap semua orang
Sabtu, 07 Januari 2012 1 komentar

from Kajimat

PERMASALAHAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA

Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga secara tidak langsung akan menjadikan bangsa tersebut semakin maju. Oleh karena itu setiap bangsa pasti akan berusaha untuk menjaga dna meningkatkan kualitas pendidikannya.
Saat ini kualitas pendidikan Indonesia cenderung memprihatinkan. Apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia masih cukup tertinggal kualitas pendidikannya. Banyak faktor yang meyebabkan kualitas pendidikan Indonesia menjadi rendah, diantaranya adalah lingkungan belajar, sarana dan prasarana pendukung, tenaga pendidik dan metode pembelajarannya. Selain itu tingkat kecerdasan siswa, motivasi dan minat siswa terhadap suatu pelajaran juga turut menjadi faktor yang cukup mempengaruhi kualitas pendidikan Indonesia.
Pemerintah pasti akan berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia mulai dari jenjang pendidikan dasar maupun menengah. Namun saat ini kualitas Pendidikan Indonesia, khususnya dalam bidang matematika masih belum membahagiakan. Hal ini dikarenakan terjadi pula masalah dalam pendidikan matematika. Masalah-masalah yang dialami dalam pendidikan matematika adalah : rendahnya prestasi belajar matematika siswa, rendahnya rata-rata nilai UN Matematika, Rendahnya daya saing Matematika di ajang Internasional, Rendahnya minat belajar matematika siswa, Metode pembelajaran yang kurang menarik, dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran.

A.    Rendahnya prestasi belajar matematika siswa dan rendahnya rata-rata nilai UN (Ujian Nasional) Matematika
Mata pelajaran matematika ada di setiap tingkatan sekolah, mulai dari tingkatan yang paling rendah TK (matematika awal seperti mengenal angka dan berhitung sederhana), SD, SMP maupun SMA dan SMK. Jam pelajaran yang ada di SD, SMP maupun SMA/SMK pun berbeda sesuai kebutuhannya. Akan tetapi jam pelajaran matematika mendapat porsi yang sedikit lebih banyak dari mata pelajaran lain. Hal ini dapat terjadi karena Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu diujikan di Ujian Nasional. Meskipun kurikulum matematika terus menerus disempurnakan, penelitian-penelitian  dilakukan, para ahli dan praktisi pendidikan matematika untuk menemukan solusi rendahnya hasil belajar matematika siswa, akan tetapi tetap saja matematika merupakan mata pelajaran yang menjadi momok bagi siswa-siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Bahkan banyak diperbincangkan bahwa nilai rata-rata matematika siswa di sekolah masih rendah dibanding mata pelajaran lainnya,selain itu nilai UN Matematika siswa juga cenderung lebih rendah dbandingkan bidang studi lain.
Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan siswa mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam memahami matematika. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pemahaman siswa tersebut, misalnya pola materi yang disampaikan guru tidak melalui langkah yang terstruktur, padahal matematika mempunyai ciri utama penalaran deduktif dimana kebenaran suatu konsep dari akibat logis suatu kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika harus bersifat konsisten

B.    Rendahnya daya saing Matematika di ajang internasional
Hasil penelitian TIMMS yang dilakukan oleh Frederick K. S. Leung pada tahun 2003, jumlah jam pengajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Dalam satu tahun, siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapat 169 jam pelajaran matematika. Sementara di Malaysia hanya mendapat 120 jam dan Singapura 112 jam. Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di Jakarta pada 21 Desember 2006 itu menyebutkan, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 411. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400= rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut). Waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak sebanding dengan prestasi yang diraih.
Dalam suatu makalah yang ada di perpustakaan UPI, pada hasil studi Trends in International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) tahun 2007 menunjukkan bahwa kemampuan matematika anak kelas dua sekolah menengah pertama (SMP) di Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 48 negara. Aspek yang dinilai dalam matematika adalah pengetahuan tentang fakta, prosedur, konsep, penerapan pengetahuan dan pemahaman konsep. Sementara itu, hasil tes PISA (Program for International Students Assessment) tahun 2006 tentang matematika, siswa Indonesia berada pada peringkat 52 dari 57 negara. Aspek yang dinilai dalam PISA adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan komunikasi (communication).
Dari data-data tersebut dpat terlihat bahwa daya saing matematika siswa Indonesia masih cenderung rendah bila dibandingkan negara-negara lain, karena Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.

C.    Rendahnya minat belajar Matematika siswa
Banyak manfaat yang akan diperoleh dari belajar matematika. Baik itu untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk dasar ilmu-ilmu lainnya. Akan tetapi banyak pula siswa yang tidak suka pada pelajaran matematika. Seperti yang diungkapkan oleh Ruseffendi, matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak dan secara umumnya merupakan pelajaran yang tidak disenangi dan atau pelajaran yang dibenci. Banyak juga anak yang beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan.
Dikatakan sulit karena matematika adalah pelajaran tentang hal-hal yang abstrak sehingga sulit untuk dipahami. Sementara matematika dianggap membosankan karena matematika hanya belajar mengenai angka-angka saja. Selain itu kurangnya peranan siswa dalam pembelajaran menyebabkan siswa tidak berminat terhadap pelajaran matematika karena siswa harus menerima ilmu yang diberikan oleh guru saja.
Pada awalnya keluhan-keluhan tentang pelajaran matematika muncul ketika anak berada pada jenjang SD, karena keluhan tersebut tidak teratasi, maka menjalar ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena jenjang SD merupakan landasan dari seluruh proses pendidikan yang akan dijalani oleh seseorang.
Menurut Catur S (2009:1) ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak memiliki minat yang tinggi terhadap pelajaran matematika. Faktor-faktor tersebut adalah faktor budaya, faktor sistem pendidikan, faktor sistem penilaian, faktor keluarga, faktor guru dan faktor bidang studi matematika itu sendiri.
Faktor budaya adalah tentang cara pandang masyarakat yang kurang senang dengan budaya kerja keras. Masyarakat sering melihat dari televisi bahwa orang dapat sukses secara instan tanpa harus bekerja keras. Padahal matematika adalah pelajaran yang membutuhkan kerja keras dan konsentrasi tinggi, sehingga dengan budaya yang tidak mau bekerja keras tentu akan menjadikan matematika pelajaran yang membosankan.
Faktor orang tua atau keluarga juga merupakan hal yang penting dalam membantu anak belajar matematika. Meskipun orang tua memiliki cukup waktu untuk memperhatikan perkembangan belajar anaknya, namun karena banyak orang tua yang tidak menguasai matematika dan cara membelajarkannya maka mereka mengalami kesulitan sehingga kebingungan ketika anak mempunyai masalah matematika.
Faktor guru dalam pembelajaran matematika juga adalah hal yang sangat penting. Dibandingkan dengan guru-guru bidang studi lain, guru matematika cenderung mudah terkena godaan untuk cepat marah terhadap siswa. Hal ini disebabkan pada satu sisi ada tuntutan untuk memenuhi kurikulum, target kelulusan lewat ujian nasional, dan lain-lain, sedangkan pada sisi lain banyak siswa yang cenderung “lamban” dalam mempelajari dan mengerjakan soal-soal matematika.
Faktor yang terakhir adalah faktor sifat bidang studi matematika. Matematika mempunyai karakteristik yang sangat khas dan berbeda dengan disiplin ilmu lain. Sifat khas ini membuat kebanyakan siswa tidak mudah untuk secara langsung menaruh minat terhadap matematika. Anak harus bekerja keras untuk dapat melihat daya tarik matematika. Sayangnya, banyak anak yang tidak memiliki ketekunan dan mau untuk bekerja keras dengan matematika. Anggapan seperti ini mengakibatkan siswa menjadi tidak berminat terhadap pembelajaran matematika dan siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran matematika

D.    Metode pembelajaran guru dalam pembelajaran matematika yang kurang menarik
Kebanyakan guru dalam pembelajaran matematika adalah menggunakan pembelajaran yang konvensional, yaitu guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa hanya perlu menerima pengetahuan tersebut tanpa harus terlibat secara maksimal dalam proses di kelas. Menurut Haji, dalam makalah di perpustakaan UPI, biasanya guru cenderung melakukan cara: (1) guru menjelaskan pengertian konsep dalam matematika; (2) memberikan dan membahas contoh soal dari konsep tersebut; (3) menyampaikan dan membahas soal-soal aplikasi dari konsep; (4) membuat rangkuman; dan (5) memberikan tugas berupa pekerjaan rumah (PR).
Peran guru disini sangatlah penting. Guru harus memperhatikan emosi dan psikologis siswa sehingga suasana belajarnya menyenangkan. Guru yang berkualitas akan berusaha meningkatkan prestasi siswa-siswanya. Namun, kebanyakan guru kurang berinteraksi dengan para siswanya saat pembelajaran. Hal itu mengakibatkan konsentrasi dan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran tidak maksimal.
Dalam proses belajar mengajar matematika hendaknya guru berupaya agar siswa terlibat secara aktif untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika. Dengan kata lain, proses pembelajaran tidak didominasi oleh guru, sehingga interaksi antara guru dengan siswa dapat terjalin. Dengan cara demikian, siswa dapat termotivasi untuk belajar.
Selain itu guru juga harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mengajar, yaitu memilih metode dan media yang baik dalam pembelajaran agar pembelajaran yang terjadi di kelas bukan hanya pembelajaran matematika yang konvensional. Dengan menggunakan media pembelajaran atau alat peraga, materi yang tadinya sulit dapat diterangkan secara lebih mudah dan jelas, sehingga siswa akan merasa lebih senang dalam belajar matematika.
E.    Siswa kurang aktif dalam pembelajaran
Dalam pembelajaran matematika sering terlihat siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, keberanian siswa untuk bertanya kepada guru sangat rendah, apabila ditanya oleh guru tidak ada yang mau menjawab, jika tidak ditunjuk.
Prinsip utama belajar matematika adalah untuk memperbaiki dan menyiapkan aktivitas belajar yang bermanfaat bagi siswa yang bertujuan untuk beralih dari paradigma mengajar matematika ke belajar matematika, keterkaitan siswa secara aktif dalam pembelajaran harus ditunjang dengan disediakannya aktivitas belajar yang khusus sehingga siswa dapat melakukan “doing math” untuk menemukan dan membangun matematika dengan fasilitas oleh guru.




Alternatif Solusi

Sampai saat ini kondisi pengajaran matematika memang belum seperti yang diharapkan, kritik dan sorotan masih dikemukakan antara lain adanya kemrosotan mutu lulusan yang ditandai dengan rendahnya prestasi belajar matematika. Dari permasalahan dalam pendidikan matematika tersebut, banyak solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasinya.
Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
Selain itu, untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai metode yang bervariasi. Pembelajaran yang baik, tepat, dan efektiv akan menjadikan siswa lebih senang dalam belajar. Guru selain menggunakan metode yang bervariasi juga guru harus menggunakan media pembelajaran yang bervariasi pula. Dalam pembelajaran guru dapat menggunakan  media elektronik seperti komputer (powerpoint, flash), infokus, OHP, maupun media lainnya. Selain itu dengan menggunakan alat peraga juga sangat dianjurkan dalam menjelaskan materi-materi tertentu sehingga yang tadinya abstrak dapat menjadi real dimengerti oleh siswa. Guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, guru dekat dengan siswa agar tidak ada kesenjangan. Selain itu dalam pembelajaran dipusatkan agar siswa yang lebih aktif, sehingga siswa dapat membangun pemahaman matematika agar matematika tidak hanya diketahui, tapi juga pembelajarannya dialami dan diterapkan secra langsung oleh siswa.
Pemerintah secara tidak langsung juga ikut andil dalam hal ini, yaitu pemerintah turut memberikan bantuan sarana dan prasarana, serta ikut lebih memperhatikan profesionalisme guru melalui sertifikasi, juga perlu memperhatikan kesejahteraan guru agar guru tersebut lebih giat dalam mengajar siswanya.
Kurikulum dalam pembelajaran matematika juga perlu lebih disempurnakan lagi dengan melihat kondisi lapangan, bukan hanya teori. Jam pelajaran matematika harus disesuaikan dengan materinya, agar tidak terjadi pemadatan materi.
Secara umum solusi dari masalah tersebut adalah dengan melakukan pembelajaran matematika yang tepat dan baik sehingga anak merasa senang belajar matematika. Dengan anak senang belajar matematika maka secara tidak langsung akan membantu meningkatkan mutu pembelajaran matematika yang lebih baik.

Jumat, 23 Desember 2011 2 komentar

Merpati Juga Pintar Matematika



 William van der Wiet

Merpati tengah menjalani tes berhitung.

Kecerdasan bangsa burung semakin terkuak lewat penelitian. Burung beo abu-abu Afrika memiliki kemampuan verbal yang hebat, burung scrub jay memiliki memori yang luar biasa, sementara gagak Kaledonia Baru punya kemampuan menggunakan peralatan. Kini, ilmuwan berhasil membuktikan bahwa merpati juga pintar matematika.

Berdasarkan studi yang dilakukan Dr Damian Scarf dan timnya dari Universitas Otago, burung punya kemampuan berhitung, mengurutkan angka abstrak dari yang terkecil ke yang paling besar, dari 1 sampai 9. Hasil ini mencengangkan sebab kemampuan serupa semula diperkirakan hanya ada pada bangsa primata.
Hasil penelitian menunjukkan, merpati bisa memahami bahwa dua lebih besar dari satu, dan tiga lebih besar dari dua.
Untuk mendapatkan hasil tersebut, awalnya ilmuwan melatih merpati dengan 35 set gambar himpunan. Masing-masing dengan satu, dua, dan tiga obyek yang warna dan bentuknya berbeda. Selanjutnya, merpati dihadapkan dengan himpunan obyek yang lebih besar tanpa dilatih untuk meneliti apakah mereka masih tetap mampu mengurutkannya.

Hasil penelitian menunjukkan, merpati bisa memahami bahwa dua lebih besar daripada satu, dan tiga lebih besar daripada dua. Meski tanpa latihan, merpati juga terbukti memahami bahwa enam lebih besar daripada lima dan seterusnya. Kemampuan merpati ini menyamai kemampuan monyet rhesus yang pernah diteliti dengan metode yang sama tahun 1990-an.

"Penemuan kami menambah bukti bahwa merpati merupakan salah satu spesies burung yang memiliki kemampuan mental hebat," kata Scarf, seperti dikutip Physorg, Kamis (22/12/2011).

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (22/12/2011), juga memberi bukti bahwa bangsa burung tak kalah cerdas dengan primata.

Scarf, seperti diuraikan New York Times, mengatakan, kemampuan burung dan primata dalam menghitung didapatkan melalui evolusi. Nenek moyang burung dan primata yang hidup 300 juta tahun lalu memang memiliki kemampuan berhitung yang kemudian diturunkan. Scarf bertaruh, kemampuan ini pasti menguntungkan bagi dua bangsa hewan itu.

Penelitian Scarf dipublikasikan di jurnal Science yang terbit Jumat (23/11/2011). Hingga saat ini belum diketahui apakah merpati mampu menyusun himpunan obyek yang jumlahnya lebih besar, lebih dari 9. Namun, penelitian masih akan terus dilanjutkan, termasuk mengamati aktivitas otak merpati ketika sedang berhitung.



SUMBER : http://sains.kompas.com (Dunedin)
Kamis, 22 Desember 2011 1 komentar

Mulianya Seorang Ibu


B042.jpgTangan halus dan suci, tlah mengangkat tubuh ini. . .
Jiwa raga dan seluruh hidup rela ‘dia’ berikan. . .
Kata mereka diriku slalu dimanja. . .
Kata mereka diriku slalu ditimang . . .
Oh bunda ada dan tiada dirimu kau selalu di dalam hatiku. . .

Tahu kan lagu yang diatas? Lagu di atas adalah lagu yang menceritakan tentang seorang ibu..Dan,, sekarang perhatikan foto ini baik-baik !!!!


Foto di atas aku ambil ketika aku melakukan perjalanan ke Jember untuk menghadiri suatu kegiatan sebagai delegasi dari UKM dan kampusku.  Aku memotret dari dalam bis yang saat itu baru memasuki wilayah Jawa Timur..
Unik...dan....Luar Biasa...
Itulah kata yang dapat aku ungkapkan untuk foto itu..
UNIK karena ada anak yang dimasukkan ke dalam keranjang sayuran..sembari motor tetap jalan..
LUAR BIASA karena yang mengendarai adalah seorang wanita..seorang ibu..

BETAPA TIDAK????
Dari fenomena itu kita tahu..bahwa IBU tidak akan pernah meninggalkan anaknya,,walau harus bekerja pun anaknya tetap diikutkan..Kasih sayang ibu sangatlah LUARRRR BIASA...Tapi kasih sayang kita???

            Ibu adalah seorang wanita perkasa, tangguh, hebat, dan paling berjasa untuk kita. Kita ada di dunia ini bukan semata-mata perjuangan yang mudah, melainkan perjuangan yang sangat sulit dan membutuhkan banyak pengorbanan. Ibulah wanita yang telah mengandung kita selama 9 bulan. Beliau yang telah menjadikan kita ada dengan melahirkan kita, merawat kita, menjaga kita, menyayangi kita, dan mendidik kita. Tidak ada orang yang mau berkorban sebagaimana pengorbanan seorang ibu. Hanya ibulah yang rela meregang nyawa demi kita. Demi kita yang selalu dinanti kehadirannya untuk menghiasi hari-hari indah ibu. 
            Ketulusan hati seorang ibu tidak diragukan lagi kebenarannya. Beliau selalu bersedia meneteskan air mata untuk anaknya. Juga do’a ibu akan selalu mengiringi langkah hidup anaknya. Saat kita melakukan kesalahan yang besar, dimana orang-orang tidak dapat memaafkan kesalahan kita, hanya ibulah yang ada untuk kita dan akan tetap memaafkan segala kesalahan kita. Begitu  indahnya kasih sayang seorang ibu, yang sampai kapan pun kita tidak dapat membalasnya.
            Do’a seorang ibu amatlah mustajab, baik itu do’a yang baik ataupun do’a yang buruk. Begitulah cara Allah swt. mengistimewakan seorang ibu. Oleh karena itu, jangan pernah kita mendurhakai orang tua, apalagi ibu kita, karena itu adalah dosa besar. Kita harus selalu berbakti pada orang tua, terutama ibu. Minimal kita harus mendo’akannya, karena apabila kita tidak mendoakan orang tua, maka putuslah rezeki kita. Seperti yang tertulis dalam hadist berikut ini:

Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)
            Subhanallah…begitu mulianya pengorbanan seorang ibu hingga Allah swt. merelakan surga berada di telapak kaki ibu. Kasih sayang dan cinta ibu terhadap anaknya sangatlah besar.
Sahabat-sahabat…Muliakanlah ibumu, cintailah dan hormatilah beliau selama beliau masih ada di sampingmu. ;)

I Love mamah asri…
Jumat, 16 Desember 2011 2 komentar

Membelajarkan Anak untuk Belajar dan Mencintai Matematika melalui Outbond Matematika

Pengertian matematika berdasarkan etimologis (Elea Tinggih, 1972:5), perkataan matematika berarti pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran (Ruseffendi ET, 1980: 148). Pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, karena matematika sebagai aktivitas manusia kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika.
Matematika merupakan pelajaran wajib yang diajarkan di semua tingkat satuan pendidikan, mulai dari tingkat rendah seperti SD, SMP hingga SMA. Bahkan di tingkat perguruan tinggi matematika masih sangat dibutuhkan, misalnya untuk menunjang perhitungan dalam skripsi, tesis, dan juga disertasi. Jadi seseorang suka atau tidak suka terhadap Matematika, tetap saja akan bertemu matematika, baik itu dalam pembelajaran formal, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sebagai Queen of Science, yang berarti bahwa matematika adalah ratu dari ilmu pengetahuan. Matematika sebagai alat bantu dan pelayan bagi ilmu-ilmu  lain, seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, teknik, ekonomi, kedokteran, pertanian, farmasi, dan lain sebagainya. Sayangnya matematika merupakan pelajaran yang masih dianggap sulit dan membosankan, bahkan ada siswa yang menganggap matematika adalah pelajaran yang menakutkan dan mematikan. Oleh karena itu kebanyakan orang akan merasa malas untuk belajar matematika.

Matematika sebagai suatu pertanda perkembangan intelegensi manusia, matematika juga merupakan salah satu cara mengembangkan cara berpikir. Hal tersebut menunjukkan bahwa matematika sangat diperlukan, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK, untuk itu matematika perlu dibekalkan pada siswa sejak Sekolah Dasar (SD). Hingga saat ini sudah banyak ditemukan, disusun dan dikembangkan berbagai macam model, pendekatan, dan metode pembelajaran untuk pelajaran matematika. Sebagian besar metode tersebut diyakini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun kenyataannya masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan. Padahal proses pembelajarannya dilakukan dengan strategi pembelajaran yang relevan. Walaupun metode pembelajarannya relevan, siswa cenderung merasa bosan karena pembelajarannya dilakukan dalam kelas. Kesulitan menemukan strategi pembelajaran yang relevan sering terjadi di kalangan guru Sekolah Dasar (SD) dikarenakan para peserta didiknya masih dalam fase dunia bermain.

Inovasi yang mampu mengkolaborasikan antara dunia bermain anak dengan kemampuan berpikir akademis siswa sangat baik tentunya agar tercapainya tujuan pembelajaran. Dunia bermain anakpun tidak sepenuhnya dipandang negatif sebaiknya oleh para orangtua maupun guru. Anak-anak dapat mengeksplorasi dirinya ketika bermain, mereka dapat beraksi, berkreatifitas, bahkan meningkatkan kemampuan berkomunikasi mereka dengan rekan bermainnya.

Mengingat pentingnya mata pelajaran matematika dan dunia bermain anak ,penulis mengembangkan pembelajaran matematika melalui kegiatan outbond. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan menekankan pada aplikasi matematika secara realistik. Kegiatan ini tidak serta merta meningkatkan mutu pendidikan matematika begitu saja, tetapi paling tidak, ada langkah nyata yang mengarah kepada pencapaian tujuan tersebut. Harapannya dengan adanya outbond matematika ini menjadi jalan bagi siswa Sekolah Dasar (SD) agar lebih menyenangi dan respect terhadap matematika, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya.


          
           Outbond matematika ini menerapkan konsep permainan outbond secara umum. Perbedaannya adalah outbond matematika ini didasari oleh metode permainan dalam pembelajaran matematika, yaitu cara menyajikan bahan belajar melalui bermain sehingga muncul unsur kompetisi secara sehat, perjuangan-usaha untuk menang, tumbuh rasa kebersamaan, dan kemampuan identifikasi, eksplorasi, inkuiri, generalisasi bisa terlatih.

Belajar dengan bermain akan lebih efektif dibandingkan belajar dengan struktur yang baku, seperti mendengarkan ceramah, duduk manis, dan hanya diam dalam kelas. Dalam bermain anak akan mengalami proses untuk membangun pengetahuan sendiri dan memberi makna pada pengetahuan yang dibangunnya tersebut.

            Dalam kegiatannya, outbond matematika ini menggunakan prinsip-prinsip outbond secara umum yaitu adanya kerjasama tim dan pos-pos permainan. Permainan-permainan matematikanya dipilih yang sesuai dengan tingkat pendidikan. Misalnya peserta outbond siswa SD maka permainannya seputar materi matematika tingkat SD yang sesuai untuk kerjasama tim. Contoh permainannya adalah Pos Berkeringat Sehat, Pos Menghitung Bintang, Pos Kotak Ajaib, Pos Pohon Faktor, dan pos-pos lainnya yang permainannya dipilih sesuai kondisi pesertanya.

Dalam pos berkeringat sehat, permainan ini akan disediakan 4 buah kardus yang digunakan sebagai kendaraanuntuk melaju dari garis start sampai finish. Sesampainya di tengah lintasan, regu yang sedang bermain dipersilakan untuk meledakkan satu buah balon yang diikat di tembok ataupun di pohon. Jawab soal yang ada di dalamnya. Setelah menjawab, laju kardus-kardus tadi sampai ke ujung lintasan. Ambillah bendera jawaban yang sesuai kemudian lajukan kardus-kardus tersebutsampai ke garis finish. Untuk pos menghitung bintang, setiap regu yang bermain diberi satu buah bintang dan busur derajat. Masing-masing dari mereka diperintahkan untuk menghitung salah satu sudut yang terdapat pada bintang tersebut.

Untuk pos-pos berikutnya disesuaikan dengan kondisi peserta. Keseluruhan outbond matematika ini berlangsung selama 3 jam, dengan pengaturan 6-8 orang setiap kelompok, kelompoknya diatur sehingga dapat bertemu di pos-pos permainan. Untuk penilaian permainan outbond matematika ini adalah jika menjawab benar akan mendapat point 1, menjawab benar dan epat akan mendapat point tambahan 1, dan menjawab salah mendapat point 0. Keseluruhan nilai-nilai tersebut akan diakumulasikan dan pengumuman nilainya akan seperti teknis pengumuman ajang pencarian bakat di salah satu TV swasta, yaitu dengan menggunakan raport merah dan biru, kemudian akan mendapat hadiah-hadiah.

           Untuk waktu outbond disesuaikan dengan kesepakatan antara siswa, guru dengan pihak pengelola dan pelaksana outbond matematika. Selain itu tempatnya akan berada di tempat khusus outbond yaitu berada di alam terbuka sehingga diharapkan akan muncul rasa cinta terhadap matematika agar nantinya anak lebih menikmati ketika pembelajaran matematika di sekolah.



Sumber:

 Ruseffendi, E. T. 1988. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito

 Suherman, dkk. 2001. Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer . Bandung: Penerbit JICA-UPI
  Supatmono, Catur. 2009. Matematika Asyik. Jakarta: Grasindo








Rabu, 14 Desember 2011 1 komentar

Tugas Video Mulmed

Ini adalah tugas besar...big project dari Ibu Dewi dan Ibu Tia..
Kali ini saya dan teman2 kelompok saya membuat video alat peraga.
Alat peraga yang kami gunakan adalah Diagram Pie.

Wah...proses pembuatannya cukup lama,,latihannya,,shootingnya dann juga editingnya...
Tapi jadi asik..kerasa banget serasa jadi Sutradara, Produser dan Editornya,,eh kamerawati juga...


Dari tugas ini saya tahu bagaimana proses dalam pembuatan film itu ternyata tidak mudah,,apalagi pas editingnya..benar2 harus teliti dan menuangkan kreativitas yang unik..

Inilah hasil karya Saya dan teman-teman saya.....
klik di sini  untuk melihatnya :)
 
;