Rabu, 16 November 2011

Minat Anak Terhadap Pelajaran Matematika

       
         Banyak manfaat yang akan diperoleh dari belajar matematika. Baik itu untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk dasar ilmu-ilmu lainnya. Akan tetapi banyak pula siswa yang tidak suka pada pelajaran matematika. Seperti yang diungkapkan oleh Ruseffendi, matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak dan secara umumnya merupakan pelajaran yang tidak disenangi dan atau pelajaran yang dibenci. Banyak juga anak yang beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan.
Dikatakan sulit karena matematika adalah pelajaran tentang hal-hal yang abstrak sehingga sulit untuk dipahami. Sementara matematika dianggap membosankan karena matematika hanya belajar mengenai angka-angka saja. Selain itu kurangnya peranan siswa dalam pembelajaran menyebabkan siswa tidak berminat terhadap pelajaran matematika karena siswa harus menerima ilmu yang diberikan oleh guru saja.
            Pada awalnya keluhan-keluhan tentang pelajaran matematika muncul ketika anak berada pada jenjang SD, karena keluhan tersebut tidak teratasi, maka menjalar ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena jenjang SD merupakan landasan dari seluruh proses pendidikan yang akan dijalani oleh seseorang.
            Menurut Catur S (2009:1) ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak memiliki minat yang tinggi terhadap pelajaran matematika. Faktor-faktor tersebut adalah faktor budaya, faktor sistem pendidikan, faktor sistem penilaian, faktor keluarga, faktor guru dan faktor bidang studi matematika itu sendiri.
            Faktor budaya adalah tentang cara pandang masyarakat yang kurang senang dengan budaya kerja keras. Masyarakat sering melihat dari televisi bahwa orang dapat sukses secara instan tanpa harus bekerja keras. Padahal matematika adalah pelajaran yang membutuhkan kerja keras dan konsentrasi tinggi, sehingga dengan budaya yang tidak mau bekerja keras tentu akan menjadikan matematika pelajaran yang membosankan.
            Sistem pendidikan di Indonesia cenderung menentukan segala sesuatunya dari atas. Proses belajar masih berpusat pada guru dan belum memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa. Masalah lain adalah kurikulum yang padat akan materi tetapi dengan alokasi waktu yang sedikit. Kondisi seperti ini akan menyebabkan siswa merasa tidak cukup waktu untuk mempelajari matematika sesuai dengan tuntutan kurikulum yang ada.
            Selain alasan di atas, sistem penilaian di sekolah cenderung hanya menilai hasil akhir pekerjaan siswa saja dan bukan menilai proses pekerjaan siswa. Hal ini akan mengakibatkan siswa yang sudah bekerja keras jika hasilnya salah, maka akan memperoleh nilai yang jelek dalam pelajaran matematika.
            Faktor orang tua atau keluarga juga merupakan hal yang penting dalam membantu anak belajar matematika. Meskipun orang tua memiliki cukup waktu untuk memperhatikan perkembangan belajar anaknya, namun karena banyak orang tua yang tidak menguasai matematika dan cara membelajarkannya maka mereka mengalami kesulitan sehingga kebingungan ketika anak mempunyai masalah matematika.
            Faktor guru dalam pembelajaran matematika juga adalah hal yang sangat penting. Dibandingkan dengan guru-guru bidang studi lain, guru matematika cenderung mudah terkena godaan untuk cepat marah terhadap siswa. Hal ini disebabkan pada satu sisi ada tuntutan untuk memenuhi kurikulum, target kelulusan lewat ujian nasional, dan lain-lain, sedangkan pada sisi lain banyak siswa yang cenderung lamban dalam mempelajari dan mengerjakan soal-soal matematika.
            Faktor yang terakhir adalah faktor sifat bidang studi matematika. Matematika mempunyai karakteristik yang sangat khas dan berbeda dengan disiplin ilmu lain. Sifat khas ini membuat kebanyakan siswa tidak mudah untuk secara langsung menaruh minat terhadap matematika. Anak harus bekerja keras untuk dapat melihat daya tarik matematika. Sayangnya, banyak anak yang tidak memiliki ketekunan dan mau untuk bekerja keras dengan matematika.
Adanya terobosan pembaharuan terhadap matematika inilah diharapkan akan menumbuhkan rasa cinta untuk belajar matematika secara mudah dan menyenangkan. Dengan dimilikinya rasa cinta terhadap matematika akan membuat siswa lebih rajin dalam belajar matematika sehingga prestasi belajarnya akan meningkat.


SUMBER:

Ruseffendi, E. T. 1988. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Suherman, dkk. 2001. Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer . Bandung: Penerbit JICA-UPI
Supatmono, Catur. 2009. Matematika Asyik. Jakarta: Grasindo

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Use this diet hack to drop 2 lb of fat in just 8 hours

More than 160,000 men and women are using a easy and SECRET "liquids hack" to drop 1-2 lbs each night in their sleep.

It's easy and works all the time.

You can do it yourself by following these easy steps:

1) Go get a glass and fill it with water half the way

2) Now do this strange hack

so you'll be 1-2 lbs thinner when you wake up!

Posting Komentar

 
;