PERMASALAHAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA
Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga secara tidak langsung akan menjadikan bangsa tersebut semakin maju. Oleh karena itu setiap bangsa pasti akan berusaha untuk menjaga dna meningkatkan kualitas pendidikannya.
Saat ini kualitas pendidikan Indonesia cenderung memprihatinkan. Apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia masih cukup tertinggal kualitas pendidikannya. Banyak faktor yang meyebabkan kualitas pendidikan Indonesia menjadi rendah, diantaranya adalah lingkungan belajar, sarana dan prasarana pendukung, tenaga pendidik dan metode pembelajarannya. Selain itu tingkat kecerdasan siswa, motivasi dan minat siswa terhadap suatu pelajaran juga turut menjadi faktor yang cukup mempengaruhi kualitas pendidikan Indonesia.
Pemerintah pasti akan berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia mulai dari jenjang pendidikan dasar maupun menengah. Namun saat ini kualitas Pendidikan Indonesia, khususnya dalam bidang matematika masih belum membahagiakan. Hal ini dikarenakan terjadi pula masalah dalam pendidikan matematika. Masalah-masalah yang dialami dalam pendidikan matematika adalah : rendahnya prestasi belajar matematika siswa, rendahnya rata-rata nilai UN Matematika, Rendahnya daya saing Matematika di ajang Internasional, Rendahnya minat belajar matematika siswa, Metode pembelajaran yang kurang menarik, dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
A. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa dan rendahnya rata-rata nilai UN (Ujian Nasional) Matematika
Mata pelajaran matematika ada di setiap tingkatan sekolah, mulai dari tingkatan yang paling rendah TK (matematika awal seperti mengenal angka dan berhitung sederhana), SD, SMP maupun SMA dan SMK. Jam pelajaran yang ada di SD, SMP maupun SMA/SMK pun berbeda sesuai kebutuhannya. Akan tetapi jam pelajaran matematika mendapat porsi yang sedikit lebih banyak dari mata pelajaran lain. Hal ini dapat terjadi karena Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu diujikan di Ujian Nasional. Meskipun kurikulum matematika terus menerus disempurnakan, penelitian-penelitian dilakukan, para ahli dan praktisi pendidikan matematika untuk menemukan solusi rendahnya hasil belajar matematika siswa, akan tetapi tetap saja matematika merupakan mata pelajaran yang menjadi momok bagi siswa-siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Bahkan banyak diperbincangkan bahwa nilai rata-rata matematika siswa di sekolah masih rendah dibanding mata pelajaran lainnya,selain itu nilai UN Matematika siswa juga cenderung lebih rendah dbandingkan bidang studi lain.
Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan siswa mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam memahami matematika. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pemahaman siswa tersebut, misalnya pola materi yang disampaikan guru tidak melalui langkah yang terstruktur, padahal matematika mempunyai ciri utama penalaran deduktif dimana kebenaran suatu konsep dari akibat logis suatu kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika harus bersifat konsisten
B. Rendahnya daya saing Matematika di ajang internasional
Hasil penelitian TIMMS yang dilakukan oleh Frederick K. S. Leung pada tahun 2003, jumlah jam pengajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Dalam satu tahun, siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapat 169 jam pelajaran matematika. Sementara di Malaysia hanya mendapat 120 jam dan Singapura 112 jam. Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di Jakarta pada 21 Desember 2006 itu menyebutkan, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 411. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400= rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut). Waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak sebanding dengan prestasi yang diraih.
Dalam suatu makalah yang ada di perpustakaan UPI, pada hasil studi Trends in International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) tahun 2007 menunjukkan bahwa kemampuan matematika anak kelas dua sekolah menengah pertama (SMP) di Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 48 negara. Aspek yang dinilai dalam matematika adalah pengetahuan tentang fakta, prosedur, konsep, penerapan pengetahuan dan pemahaman konsep. Sementara itu, hasil tes PISA (Program for International Students Assessment) tahun 2006 tentang matematika, siswa Indonesia berada pada peringkat 52 dari 57 negara. Aspek yang dinilai dalam PISA adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan komunikasi (communication).
Dari data-data tersebut dpat terlihat bahwa daya saing matematika siswa Indonesia masih cenderung rendah bila dibandingkan negara-negara lain, karena Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.
C. Rendahnya minat belajar Matematika siswa
Banyak manfaat yang akan diperoleh dari belajar matematika. Baik itu untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk dasar ilmu-ilmu lainnya. Akan tetapi banyak pula siswa yang tidak suka pada pelajaran matematika. Seperti yang diungkapkan oleh Ruseffendi, matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak dan secara umumnya merupakan pelajaran yang tidak disenangi dan atau pelajaran yang dibenci. Banyak juga anak yang beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan.
Dikatakan sulit karena matematika adalah pelajaran tentang hal-hal yang abstrak sehingga sulit untuk dipahami. Sementara matematika dianggap membosankan karena matematika hanya belajar mengenai angka-angka saja. Selain itu kurangnya peranan siswa dalam pembelajaran menyebabkan siswa tidak berminat terhadap pelajaran matematika karena siswa harus menerima ilmu yang diberikan oleh guru saja.
Pada awalnya keluhan-keluhan tentang pelajaran matematika muncul ketika anak berada pada jenjang SD, karena keluhan tersebut tidak teratasi, maka menjalar ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena jenjang SD merupakan landasan dari seluruh proses pendidikan yang akan dijalani oleh seseorang.
Menurut Catur S (2009:1) ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak memiliki minat yang tinggi terhadap pelajaran matematika. Faktor-faktor tersebut adalah faktor budaya, faktor sistem pendidikan, faktor sistem penilaian, faktor keluarga, faktor guru dan faktor bidang studi matematika itu sendiri.
Faktor budaya adalah tentang cara pandang masyarakat yang kurang senang dengan budaya kerja keras. Masyarakat sering melihat dari televisi bahwa orang dapat sukses secara instan tanpa harus bekerja keras. Padahal matematika adalah pelajaran yang membutuhkan kerja keras dan konsentrasi tinggi, sehingga dengan budaya yang tidak mau bekerja keras tentu akan menjadikan matematika pelajaran yang membosankan.
Faktor orang tua atau keluarga juga merupakan hal yang penting dalam membantu anak belajar matematika. Meskipun orang tua memiliki cukup waktu untuk memperhatikan perkembangan belajar anaknya, namun karena banyak orang tua yang tidak menguasai matematika dan cara membelajarkannya maka mereka mengalami kesulitan sehingga kebingungan ketika anak mempunyai masalah matematika.
Faktor guru dalam pembelajaran matematika juga adalah hal yang sangat penting. Dibandingkan dengan guru-guru bidang studi lain, guru matematika cenderung mudah terkena godaan untuk cepat marah terhadap siswa. Hal ini disebabkan pada satu sisi ada tuntutan untuk memenuhi kurikulum, target kelulusan lewat ujian nasional, dan lain-lain, sedangkan pada sisi lain banyak siswa yang cenderung “lamban” dalam mempelajari dan mengerjakan soal-soal matematika.
Faktor yang terakhir adalah faktor sifat bidang studi matematika. Matematika mempunyai karakteristik yang sangat khas dan berbeda dengan disiplin ilmu lain. Sifat khas ini membuat kebanyakan siswa tidak mudah untuk secara langsung menaruh minat terhadap matematika. Anak harus bekerja keras untuk dapat melihat daya tarik matematika. Sayangnya, banyak anak yang tidak memiliki ketekunan dan mau untuk bekerja keras dengan matematika. Anggapan seperti ini mengakibatkan siswa menjadi tidak berminat terhadap pembelajaran matematika dan siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran matematika
D. Metode pembelajaran guru dalam pembelajaran matematika yang kurang menarik
Kebanyakan guru dalam pembelajaran matematika adalah menggunakan pembelajaran yang konvensional, yaitu guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa hanya perlu menerima pengetahuan tersebut tanpa harus terlibat secara maksimal dalam proses di kelas. Menurut Haji, dalam makalah di perpustakaan UPI, biasanya guru cenderung melakukan cara: (1) guru menjelaskan pengertian konsep dalam matematika; (2) memberikan dan membahas contoh soal dari konsep tersebut; (3) menyampaikan dan membahas soal-soal aplikasi dari konsep; (4) membuat rangkuman; dan (5) memberikan tugas berupa pekerjaan rumah (PR).
Peran guru disini sangatlah penting. Guru harus memperhatikan emosi dan psikologis siswa sehingga suasana belajarnya menyenangkan. Guru yang berkualitas akan berusaha meningkatkan prestasi siswa-siswanya. Namun, kebanyakan guru kurang berinteraksi dengan para siswanya saat pembelajaran. Hal itu mengakibatkan konsentrasi dan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran tidak maksimal.
Dalam proses belajar mengajar matematika hendaknya guru berupaya agar siswa terlibat secara aktif untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika. Dengan kata lain, proses pembelajaran tidak didominasi oleh guru, sehingga interaksi antara guru dengan siswa dapat terjalin. Dengan cara demikian, siswa dapat termotivasi untuk belajar.
Selain itu guru juga harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mengajar, yaitu memilih metode dan media yang baik dalam pembelajaran agar pembelajaran yang terjadi di kelas bukan hanya pembelajaran matematika yang konvensional. Dengan menggunakan media pembelajaran atau alat peraga, materi yang tadinya sulit dapat diterangkan secara lebih mudah dan jelas, sehingga siswa akan merasa lebih senang dalam belajar matematika.
E. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran
Dalam pembelajaran matematika sering terlihat siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, keberanian siswa untuk bertanya kepada guru sangat rendah, apabila ditanya oleh guru tidak ada yang mau menjawab, jika tidak ditunjuk.
Prinsip utama belajar matematika adalah untuk memperbaiki dan menyiapkan aktivitas belajar yang bermanfaat bagi siswa yang bertujuan untuk beralih dari paradigma mengajar matematika ke belajar matematika, keterkaitan siswa secara aktif dalam pembelajaran harus ditunjang dengan disediakannya aktivitas belajar yang khusus sehingga siswa dapat melakukan “doing math” untuk menemukan dan membangun matematika dengan fasilitas oleh guru.
Alternatif Solusi
Sampai saat ini kondisi pengajaran matematika memang belum seperti yang diharapkan, kritik dan sorotan masih dikemukakan antara lain adanya kemrosotan mutu lulusan yang ditandai dengan rendahnya prestasi belajar matematika. Dari permasalahan dalam pendidikan matematika tersebut, banyak solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasinya.
Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
Selain itu, untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai metode yang bervariasi. Pembelajaran yang baik, tepat, dan efektiv akan menjadikan siswa lebih senang dalam belajar. Guru selain menggunakan metode yang bervariasi juga guru harus menggunakan media pembelajaran yang bervariasi pula. Dalam pembelajaran guru dapat menggunakan media elektronik seperti komputer (powerpoint, flash), infokus, OHP, maupun media lainnya. Selain itu dengan menggunakan alat peraga juga sangat dianjurkan dalam menjelaskan materi-materi tertentu sehingga yang tadinya abstrak dapat menjadi real dimengerti oleh siswa. Guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, guru dekat dengan siswa agar tidak ada kesenjangan. Selain itu dalam pembelajaran dipusatkan agar siswa yang lebih aktif, sehingga siswa dapat membangun pemahaman matematika agar matematika tidak hanya diketahui, tapi juga pembelajarannya dialami dan diterapkan secra langsung oleh siswa.
Pemerintah secara tidak langsung juga ikut andil dalam hal ini, yaitu pemerintah turut memberikan bantuan sarana dan prasarana, serta ikut lebih memperhatikan profesionalisme guru melalui sertifikasi, juga perlu memperhatikan kesejahteraan guru agar guru tersebut lebih giat dalam mengajar siswanya.
Kurikulum dalam pembelajaran matematika juga perlu lebih disempurnakan lagi dengan melihat kondisi lapangan, bukan hanya teori. Jam pelajaran matematika harus disesuaikan dengan materinya, agar tidak terjadi pemadatan materi.
Secara umum solusi dari masalah tersebut adalah dengan melakukan pembelajaran matematika yang tepat dan baik sehingga anak merasa senang belajar matematika. Dengan anak senang belajar matematika maka secara tidak langsung akan membantu meningkatkan mutu pembelajaran matematika yang lebih baik.

1 komentar:
As stated by Stanford Medical, It's indeed the ONLY reason women in this country live 10 years more and weigh on average 42 lbs less than us.
(And actually, it is not about genetics or some secret diet and really, EVERYTHING to do with "how" they eat.)
P.S, What I said is "HOW", not "what"...
CLICK on this link to discover if this easy questionnaire can help you decipher your true weight loss possibility
Posting Komentar